Minggu, 31 Oktober 2010

MARNO, TUTOR PANDAI BERTANI



            Marno, namanya cukup singkat namun tidak sesingkat perjalanan hidupnya lelaki kelahiran Gunung Kidul Jogjakarta, 19 Juni 1969 ini, pernah menjadi sopir dan pernah  gagal dalam mengelola ternak ayam, namun  ia tidak patah semangat untuk terus berkarya dan berjuang, Pria yang hobi bertani dan membaca  ini walaupun pendidikannya tidak  sampai  sarjana,  namun ia sering mengikuti pelatihan-pelatihan tentang pertanian, sehingga ilmunya tidak kalah dengan seorang sarjana pertanian, maklum ia pernah mengikuti hampir  40 kali pelatihan pertanian baik yang selenggarakan oleh Dinas Pertanian maupun oleh pihak swasta.
            Sejak bergabungnya pak Marno di Rumah Hutan, banyak kemajuan yang dialami oleh Rumah Hutan diantara adalah dalam mengelola penyakit pisang, dimana sebelumnya pisang-pisang yang ada di Rumah Hutan pada kena penyakit, sehingga buah pisang pada hitam dan daun-daunya menjadi layu. Dengan sistem  pembibitan yang  baik  dan pemupukan yang sempurna, kini pisang-pisang yang ada di Rumah Hutan menjadi tambah subur dan tumbuh dengan baik.
            Keseharian pak Marno sekarang hanya mengurusi tanaman yang ada di Rumah Hutan, baik tanaman palawija maupun tanaman keras lainnya seperti duren, petai, cempedak dan lain-lain. Mengamati tanaman baginya adalah sesuatu yang membahagiakan karena mengurus tanaman seperti merawat atau mengurus anak, harus di kasihi dan  di sayangi, ketika tanaman kurang air, maka ia harus cepat-cepat di siram agar tidak layu dan kering, dan ketika rumput-rumput mulai tumbuh disekitar tanaman harus segera di bersihkan, sehingga tidak mengganggu tanaman.
            Pria yang beristrikan Suarsih yang dikaruniai anak 4 (empat) ini keseharianya di temani cangkul dan golok, baginya kalau ada tanaman yang tidak bagus dan tidak berbuah dengan baik membuatnya  penasaran, apa yang terjadi pada tanaman tersebut, sehingga pikiran dan tenaganya di fokuskan pada tanaman yang di urusinya. 
            Pada saat  diluncurkannya program Pemberantasan Buta Aksara, pada masyarakat sekitar Rumah Hutan, ia pun dilibatkan menjadi tutor, ”Mengajari Ibu-ibu yang belum bisa baca dan nulis merupakan pekerjaan yang harus sangat sabar dan tekun, karena terkadang ketika belajar, ada anak Warga Belajar (WB) yang menangis dan lari-lari, sementara Ibu-ibu harus konsen belajar” Aku pak Marno saat wawancara  dengan redaksi di Rumah Hutan.
            Ketika ditanya soal tehnis pemebelajaran pak Marno mengatakan bahwa: ”Dalam pembelajaran dilakukan secara fleksibel saja, kadang diselenggarakan di Rumah Hutan, terkadang juga di kampung Cilandak”, karena memang pak Marno kebagian tugas di kampung Cilandak, dan 40 Warga belajar berada di kampng bojong dan 30 warga belajar berada di kampung Cilandak, disela-sela pembelajaran terkadang pak Marno suka di tanya tentang persoalan pertanian, seperti bagaimana cara pemupukan pisang  yang baik, menanam paliwaja dan lain-lain sekitar pertanian.
            Pria yang suka makan sayur asem ini mempunyai harapan terhadap kampung halamannya, ia ingin sekali meningkatkan produksi pangan, sehingga masyarakat tidak lagi merasa kekurangan terhadap kebutuhan pangan baik itu beras mapun lainnya. Konsep multi pangan yang di kembangkan di Rumah Hutan merupakan  kosep yang sangat baik untuk masyarakat, karena dengan kecukupan pangan hidup akan tenang dan rukun, disamping itu pula dengan ketenangan hidup, maka manusia bisa mengembangkan kreasi lainnya, seperti dalam berkesenian dan kerajinan.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar